Bienvenue Blogueurs...

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!

Pages

Sistem Perekonomian di Indonesia

Rabu, 16 April 2014

Sistem perekonomian adalah sistem yang dipakai oleh sebuah negara untuk mengalokasikan sumber daya yang dikuasainya baik untuk perorangan ataupun instansi di negara itu. Perbedaan utama antara satu sistem ekonomi dengan sistem ekonomi yang lain yaitu bagaimana cara sistem itu mengelola faktor produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu diizinkan memiliki seluruh faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut dikuasai oleh pemerintah.
Sistem perekonomian yang diterapkan oleh negara Indonesia adalah Sistem perekonomian Pancasila. Ini artinya sistem perekonomian yang dijalankan di Indonesia harus berpedoman pada Pancasila. Sehingga secara normatif Pancasila dan UUD 1945 adalah landasaan idiil sistem perekonomian di Indonesia.
tutip dipit munyubet idinyi konstatesa dilimkontuks hekem titi nugiri Anggras, yiate subigiamini dakumekikinoluh Phallaps Hood ind Jickson subigia: 46 Bindangkin dungin kusampelin ying dakumekikin oluh Brain Thompson “i body of liws, cestoms ind convuntaons thit dufanu thu composataon tunting Konstatesa Anggras, “An othur words thu Bratash constatetaon wis not midu, rithur ind powurs of thu orgins of thu Stitu ind 
Sistem ekonomi adalah suatu aturan dan tata cara untuk mengatur perilaku masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi untuk menraih suatu tujuan. Sistem perekonomian di setiap negara dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara  lain ideologi  bangsa, sifat dan jati diri bangsa, dan struktur ekonomi.
Sistem Perekonomian Pasar (Liberalis / Kapitalis)
Sistem ekonomi Pasar/Liberal/Kapitalis adalah sistem ekonomi dimana ekonomi diatur oleh kekuatan pasar (permintaan dan penawaran). Sistem ekonomi liberal merupakan sistem perekonomian yang memberikan kebebasan seutuhnya dalam segala bidang perekonomian kepada setiap orang untuk memperoleh keuntungan yang seperti dia inginkan. Sistem ekonomi liberal banyak dianut negara-negara Eropa  dan Amerika Serikat.
Ciri-ciri :
  1. Menerapkan sistem persaingan bebas
  2. Kedaulatan konsumen dan kebebasan dalam konsumsi
  3. Peranan pemerintah dibatasi
  4. Peranan modal sangat penting
Kelebihan :
  1. Setiap individu bebas memiliki alat produksi sendiri
  2. Kegiatan ekonomi lebih cepat maju karena adanya persaingan
  3. Produksi didasarkan kebutuhan masyarakat
  4. Kualitas barang lebih terjamin
Kekurangan :
  1. Sulit terjadi pemerataan pendapatan.
  2. Rentan terhadap krisis ekonomi
  3. Menimbulkan monopoli
  4. Adanya eksploitasi
Sistem Perekonomian Perencanaan (Etatisme / Sosialis)
Sistem ekonomi etatisme/sosialis merupakan sistem ekonomi dimana ekonomi diatur  negara. Dalam sistem ini, jalannya perekonomian sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara atau pemerintah pusat. Dalam perekonomia ini yang menjadi dasar adalah Karl Marx , dia berpendapat bahwa apabila kepemilikan pribadi dihapuskan maka tidak akan memunculkan masyarakat yang berkelas-kelas sehingga akan menguntungkan semua pihak. Negara yang menganut sistem ini seperti Rusia, Kuba, Korea Utara, dan negara komunis lainnya.
Ciri-ciri :
  1. Hak milik individu tidak diakui.
  2. Seluruh sumber daya dikuasai negara.
  3. Semua masyarakat adalah karyawan bagi negara.
  4. Kebijakan perekonomian disusun dan dilaksanakan pemerintah.
Kelebihan :
  1. Pemerintah lebih mudah ikut campur dalam pembentukan harga.
  2. Kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara merata.
  3. Pelaksanaan pembangunan lebih cepat.
  4. Pemerintah bebas menentukan produksi sesuai kebutuhan masyarakat.
Kekurangan :
  1. Individu tidak mempunyai kebebasan dalam berusaha
  2. Tidak ada kebebasan untuk memiliki sumber daya.
  3. Potensi dan kreativitas masyarakat tidak berkembang.
thit rugelitu thu rulitaons of at his grown”. Abad., hil. 5. 47 O. Hood Phallaps, Constatetaonil ind idmanastritavu Liw, 7th ud., Swuut ind Mixwull, London, 987, hil. 5. 48 Avo D. Dechicuk, “Constatetaon/Constatetaonilasm” dilim Bogdinor, Vurnon 45 Brain Thompson, Tuxtbook on Constatetaonil ind idmanastritavu Liw, udasa ku-, (ud), Blickwull’s uncyclopudai of Polatacil Scauncu, Blickwull, Oxford, 9

    Sistem Ekonomi Campuran
    Sistem ekonomi campuran merupakan campuran atau perpaduan antara sistem ekonomi liberal dengan sistem ekonomi sosialis. Pada sistem ekonomi campuran pemerintah melakukan pengawasan dan pengendalian dalam perekonomian, namun pihak swasta (masyarakat) masih diberi kebebasan untuk menentukan kegiatan-kegiatan ekonomi yang ingin mereka jalankan.
    Ciri-ciri :
    1. Jenis dan jumlah barang diproduksi ditentukan oleh mekanisme pasar.
    2. Hak milik swasta atas alat produksi diakui, asalkan penggunaannya tidak merugikan kepentingan umum.
    3. Pemerintah bertanggung jawab atas jaminan sosial dan pemerataan pendapatan.
    4. Ada persaingan, tetapi masih ada kontrol pemerintah
    Kelebihan :
    1. Kestabilan ekonomi terjamin
    2. Pemerintah dapat memfokuskan perhatian untuk memajukan sektor usaha menengah dan kecil
    3. Adanya kebebasan berusaha dapat mendorong kreativitas individu
    Kekurangan :
    1. Sulit menentukan batas antara kegiatan ekonomi yang seharusnya dilakukan pemerintah dan swasta
    2. Sulit menentukan batas antara sumber produksi yang dapat dikuasai oleh pemerintah dan swasta
    Setiap negara menganut sistem ekonomi yang berbeda-beda terutama Indonesia dan Amerika serikat , dua negara ini pun menganut sistem ekonomi yang berbeda. Awalnya Indonesia menganut sistem ekonomi liberal, yang mana seluruh kegiatan ekonomi diserahkan kepada masyarakat. Akan tetapi karena ada pengaruh komunisme yang disebarkan oleh Partai Komunis Indonesia, maka sistem ekonomi di Indonesia berubah dari sistem ekonomi liberal menjadi sistem ekonomi sosialis.
    Pada masa Orde Baru, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia diubah kembali menjadi sistem demokrasi ekonomi. Namun sistem ekonomi ini hanya bertahan hingga masa Reformasi. Setelah masa Reformasi, pemerintah melaksanakan sistem ekonomi yang berlandaskan ekonomi kerakyatan. Sistem inilah yang masih berlaku di Indonesia. Berikut sistem ekonomi yang dianut oleh Indonesia dari masa Orede Baru hingga sekarang :
    Sistem Ekonomi Demokrasi
    Sistem ekonomi demokrasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem perekonomian nasional yang merupakan perwujudan dari falsafah Pancasila dan UUD 1945 yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan pengawasan pemerintah. Pada sistem demokrasi ekonomi, pemerintah dan seluruh rakyat baik golongan ekonomi lemah maupun pengusaha aktif dalam usaha mencapai kemakmuran bangsa. Selain itu, negara berperan dalam merencanakan, membimbing, dan mengarahkan kegiatan perekonomian. Dengan demikian terdapat kerja sama dan saling membantu antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
    Ciri-ciri positif pada sistem ekonomi demokrasi :
    1. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
    2. Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
    3. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
    4. Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
    5. Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
    6. Potensi, inisiatif, dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
    7. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
    Ciri-ciri negatif pada sistem ekonomi demokrasi :
    1. Sistem free fight liberalism, yaitu sistem persaingan bebas yang saling menghancurkan dan dapat menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia dan bangsa lain sehingga dapat menimbulkan kelemahan struktural ekonomi nasional.
    2. Sistem etatisme, di mana negara beserta aparatur ekonomi negara bersifat dominan serta mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi unit-unit ekonomi di luar sektor negara.
    3. Persaingan tidak sehat dan pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat.
    42.Blickstonu Pruss ltd., London, 997, hil. .6 7
    •                       i0. Burlikenyi seite konstatesa subigia hekem disir ying mungakit Whun iny of ats provasaons conflact wath thu provasaons of thu ordanirydadisirkin itis kukeisiin turtangga itie pransap kudielitin ying dai- liw, at pruvials ind thu ordaniry liw mest gavu wiy”.net dilim seite nugiri. Jaki nugiri ate munginet pihim kudielitin Kiruni ate, dakumbingkinnyi pungurtain ‘constateunt powur’rikyit, miki sembur lugatamisa 
    Sistem Ekonomi Kerakyatan
    Pemerintah bertekad melaksanakan sistem ekonomi kerakyatan dengan mengeluarkan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1999, tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara yang menyatakan bahwa sistem perekonomian Indonesia adalah sistem ekonomi kerakyatan. Sistem ekonomi ini berlaku sejak tahun 1998. Pada sistem ekonomi kerakyatan, masyarakatlah yang memegang aktif dalam kegiatan ekonomi, sedangkan pemerintah yang menciptakan iklim yang bagus bagi pertumbuhan dan perkembangan dunia usaha. Ciri-ciri sistem ekonomi ini adalah :

    1. Bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan prinsip persaingan yang sehat.
    2. Memerhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai keadilan, kepentingan sosial, dan kualitas hidup.
    3. Mampu mewujudkan pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
    4. Menjamin kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja.
    5. Adanya perlindungan hak-hak konsumen dan perlakuan yang adil bagi seluruh rakyat.
    ngin dumakain kupidiimuraki Surakit (pruimblu) turdipit purkitiin “Wu thu puoplu”, tutipa Mihkimih igeng52.ying daturipkin susenggehnyi idilih sastum purwikalin, ying pur-timi kila daidopsa dilim konvunsa kheses (spucail convuntaon) din 2. Konstatesaonilasmukumedain dasutejea oluh wikal-wikal rikyit turpalah dilim forem Wilton H. Himalton mumelia irtakul ying datelasnyi dunginpurwikalin nugiri ying dadarakin bursimi. 

      Sistem Ekonomi Indonesia dalam UUD 1945



      Berdasarkan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 33 setelah amandemen
      (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
      (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
      (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
      (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.****)
      (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.


      Sumber : http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com/2014/02/sistem-ekonomi-di-indonesia.html


      Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

      TUGAS SOFTSKILL BULAN KE 2

                                                       ADJECTIVE CLAUSE CONNECTOR

           Sebuah kata sifat yang mendeskripsikan kata benda. Karena klausa tersebut adalah kata sifat, maka klausa diposisikan langsung setelah kata benda yang mendeskripsikan. Sebuah kalimat di dalam bahasa inggris dapat memiliki lebih dari satu klausa. Ketika ada dua klausa di dalam sebuah kalimat, maka kita harus menghubungkannya dengan konektor yang tepat. Salah satu cara untuk menghubungkan kedua klausa tersebut adalah menggunakan coordinate connectors. Coordinate connectors adalah but, and so atau or.

      Rumus : S + V + , + coordinate (but, and, or, so) + S + V

      Contoh : He was sick, but he went to the school.
                    you must go to school, or the teacher will be angry.

      Exercise 33 Hal : 121 (Because/Because of)

      1.  Because
      2.  Because
      3.  Because of
      4.  Because
      5.  Because of
      6.  Because of
      7.  Because of
      8.  Because
      9.  Because 
      10.Because of


      Exercise 34 Hal : 124 (So/Such)

      1.  so
      2.  Such
      3.  So 
      4.  Such
      5.  So
      6.  So
      7.  Such
      8.  So
      9.  Such
      10.Such
      11.So
      12.So
      13.Such
      14.So
      15.So


      Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

      TUGAS SOFTSKILL BULAN KE 1

      Rabu, 12 Maret 2014

      Exercise 21 Hal. 97-98

         1.    Understood.
         2.    Would not have been.
         3.    Will give.
         4.    Would had.
         5.    Would have been.
         6.    Had.
         7.    Stopped.
         8.    Needed.
         9.    Have.
         10.  Enjoyed.
         11.  Painting.
         12.  Were.
         13.  Writes.
         14.  Had permitted.
         15.  Had spent.
         16.  I will accept.
         17.  Mother buys.
         18.  Had decided.
         19.  Would have written.
         20.  Will leak.
         21.  Studied.
         22.  Hears.
         23.  See.
         24.  Gets.
         25.  Turn.
         26.  Were.
         27.  Would have called.
         28.  Would have talked.
         29.  Explained.
         30.  Spoke.

      Exercise 26 Hal. 107

         1.   Rita plays tha violin well .
         2.   That is an intense novel.
         3.   The sun is shinning brightly.
         4.   The girls speak fluent French.
         5.   The boys speak Spanish fluently.
         6.   The table has a smooth surface.
         7.   We must figure our income tax returns accurately.
         8.   We don't like to drink bitter tea.
         9.   The plane will arrive soon.
         10. He had an accident because he was driving too fast.

      Exercise 27 Hal . 109

         1.   Your cold sounds Terrible.
         2.   The pianist plays very well.
         3.   The food in the restaurant always tasted good.
         4.   The campers remained calmly despite the thunderstorm.
         5.   They became sick after eating the contaminated food.
         6.   Professor Calandra looked quick at the students sketches.
         7.   Paco was working diligently on the project.
         8.   Paul protested vehemently about the new proposals.
         9.   Our neighbour appeared relaxed after their vacation.
         10. The music sounded too noisy to be classical.

      Exercise 28 Hal. 114

         1.   as soon.
         2.   more important.
         3.   as well.
         4.   more expensive.
         5.   as hot.
         6.   more talented.
         7.   more colorful.
         8.   happier.
         9.   worse.
         10. faster.

      Exercise 29 Hal. 114

         1.   The Empire State Building is taller than the Statue of Liberty.
         2.   California is farther from New York than Pennsylvania.
         3.   His assignment is different from mine.
         4.   Louie reads more quickly than his sisters.
         5.   No animal is so big as King Kong.
         6.   Than report is less impressive than the qovernment's.
         7.   Sam wears the same shirt as his teammates.
         8.   Dave paints much more realistically than his professor.
         9.   The twins have less money at the end of the month than they have at the beginning.
         10. Her sports car is different from Nancy's.

      Exercise 30 Hal. 117

         1.   best.
         2.   happiest.
         3.   faster.
         4.   creamiest.
         5.   more colorful.
         6.   better.
         7.   good.
         8.   more awkwardly.
         9.   least.
         10. prettier.
         11. the best.
         12. from.
         13. less impressive.
         14. the sicker.
         15. than.
         16. twice as much as.
         17. few.
         18. much.
         19. farthest.
         20. more famous.

      Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

      Kekasih untuk Rere

      Minggu, 29 Desember 2013


       

      M
      alam ini mungkin berbeda dari malam yang sebelumnya. Tak ada satu pun bintang, tak ada bulan. Aku menatap langit yang gelap, mengingat apa yang telah terjadi hari ini. Tanpa terasa butiran air mata ini jatuh menetes di pipi, diiringi dengan hujan yang perlahan turun membasahi bumi, seolah mereka merasakan apa yang aku rasakan hari ini.
      Ya, kejadian tadi sepulang sekolah berputar dalam kepalaku. Aku bersama dengan teman-temanku mampir ke sebuah mall untuk refreshing sehabis ulangan mid-semester. Dan apa yang aku lihat disana? Laki-laki yang pernah masuk ke dalam kehidupanku. Laki-laki yang telah menyakiti aku dan membuat aku terluka, sedang berjalan bergandengan dengan seorang perempuan. Mereka terlihat sangat mesra.
      Dadaku bergemuruh ingin rasanya aku marah, tapi aku bukan siapa-siapa dia lagi. Ingin rasanya aku berlari meninggalkan teman-temanku, tapi itu tak mungkin. Perih, itu satu kata yang menggambarkan perasaanku saat itu.
      Suara ketukan di pintu kamarku itu menyadarkan aku dari lamunanku. Huh, rasanya aku malas sekali untuk membuka pintu..
      “Siapa?” teriakku.
      “Ini Bunda, sayang. Ayo kita makan malam dulu! Kamu belum makan, kan?” kata Bunda.
      “Iya, Bunda. Sebentar lagi Rere ke bawah!” kataku pelan.
      “Ya sudah. Bunda tunggu, ya.”
      “Iya!”
      Padahal rasanya aku malas sekali untuk makan, tapi nanti kalau aku tidak makan Bunda pasti tanya ini-itu deh. Alhasil nanti aku bertengkar dengan Bunda.
      Akhirnya aku turun dengan langkah yang gontai, duduk, dan berusaha bersikap biasa saja. Malam ini aku hanya makan berdua dengan Bunda saja. Ayah sedang dinas di luar kota, dan kakakku, Bram sedang menyelesaikan tugas kuliahnya di rumah temannya, katanya sih tidak mau diganggu.
      “Re, hari ini kamu kenapa, sih? Bunda perhatikan sehabis pulang sekolah kamu langsung masuk ke kamar dan gak keluar-keluar dari kamar. Kamu sedang ada masalah? Ayo, cerita sama Bunda! Siapa tahu Bunda bisa membantumu?” suara Bunda mengagetkanku.
      “Nggak kok Bun, Rere gak kenapa-napa. Tadi lagi banyak tugas sekolah yang harus Rere kerjakan,” kataku terpaksa berbohong.
      “Kamu ngerjain tugas? Gak biasanya kamu kayak gitu!” kata Bunda sedikit meledekku.
      “Ah, Bunda! Bisa aja, nih! Bun, Rere ke kamar ya?” kataku beranjak dari meja makan.
      “Hei, hei, habiskan dulu makanmu!” Bunda berusaha mencegahku.
      “Gak ah, kenyang. ‘Met malam ya Bun, Re sayang Bunda,” kataku setengah berlari menghindari paksaan Bunda itu.
      “Dasar nih anak! Met malam juga. Bunda juga sayang kamu,” Bunda melanjukan perkataannya.

      A

      ku membaringkan tubuhku di atas kasurku yang empuk, mencoba untuk tidur,  dan melupakan apa yang telah terjadi. Tapi aku tak bisa tidur. Bahkan untuk sekedar memejamkan mata saja sulit. Aku teringat saat aku bersamanya. Kita tertawa,, bercanda bersama. Bahagia, itu yang aku rasakan saat itu. Sampai akhirnya dia benar-benar pergi dari kehidupanku. Dia telah membohongi aku. Aku berusaha ikhlas untuk melepaskan dia. Tapi aku tak mampu. Aku begitu menyayanginya.
      Aku terkejut melihat jam di kamarku, ternyata sudah pukul 3 pagi dan aku belum tidur. Masih ada waktu dua jam untuk beristirahat sebentar sampai tiba waktunya sekolah. Aku pun akhirnya tertidur..


      A
      larm di kamarku berbunyi. Rasanya aku malas sekali untuk mematikannya. Tapi karena suaranya yang semakin nyaring yang memekakan telinga, akhirnya aku berusaha meraihnya, mematikannya, dan mencoba untuk duduk. Aku melihat wajahku di cermin.
      “Oh no!! Mataku..,” aku terkejut melihat mataku yang bengkak akibat menangis semalam. “Aduh!! Aku harus bilang apa ya ama Bunda?”
      Sambil berusaha mencari alasan yang tepat, lebih baik aku mandi, batinku.
      Setelah aku selesai mandi dan bersiap-siap aku turun ke bawah untuk sarapan. Dalam hati aku terus berdoa semoga Bunda tidak melihat mataku.
      “Baru aja Bunda mau panggil kamu untuk sarapan, eh kamu udah ke sini duluan,” suara Bunda yang lembut menyambutku.
      “Hehehe. Sarapan apa kita pagi ini, Bun?”
      “Nasi goreng udang kesukaanmu”
      “Asyik!”
      “Re, coba Bunda lihat matamu? Kayaknya bengkak?” pertanyaan Bunda membuatku terkejut kemudian tersedak.
      “Hei, pelan-pelan dong sayang!” ucap Bunda sambil memberikan aku segelas air putih.
      “Makasih, Bun,” jawabku.
      “Kenapa, Re, matamu itu?” Bunda bertanya lagi.
      “Oh iya, mata ya, Bun? Ini... Oh iya, semalaman harus ngerjain tugas, mungkin kecapekan lihat buku jadi mata Rere bengkak Bun” kataku dengan nada seyakin mungkin.
      “Aduh! Belajar sih belajar, tapi ‘kan ada waktunya. Pasti kamu gak tidur, ‘kan?” tanya Bunda.
      “Re tidur kok, tapi sekitar jam 3-an.”
      “Ya ampun. Kamu ngerjain tugas apa sih?”
      “Banyak, Bun! Bunda, Re pamit dulu, ya! Udah siang nih nanti Re terlambat lagi Bun,” kataku berbohong dan berusaha menghindari pertanyaan Bunda lagi lalu mencium tangannya dan pergi.
      “Ya sudah. Kamu hati-hati di jalan!”
      “Iya”


      S
      esampainya di sekolah, aku langsung masuk ke ruang kelasku yang terletak di lantai 3. Sudah cukup ramai. Ketiga sahabatku, Dhira, Echa, dan Niken pun sudah datang. Aku menghampiri mereka.
      “Pagi!” sapaku.
      “Pagi juga,” jawab mereka kompak.
      Aku duduk di sebelah Dhira sambil merebahkan kepalaku ke meja.
      “Kenapa loe? Gak semangat banget hari ini?” tanya dhira
      “Gak, gue ga kenapa-napa”.
      “Bohong! Loe pasti ada masalah ‘kan? Kita kenal loe itu gak satu-dua hari, Re. Ayo cerita, loe kenapa?” Echa menimpali perkataan Dhira.
      “Bagi masalah loe ke kita Re, mungkin dengan loe bagi cerita loe,, perasaan loe akan sedikit lebih tenang,” perkataan Niken menyadarkan aku.
      Aku menangis.. Dalam isak tangisku aku bercerita tentang apa yang terjadi.
      “Ya ampun.. Re, gue tau loe sayang banget sama Vano tapi loe harus sadar dia udah nyakitin loe!” Dhira terlihat kesal.
      “Iya gu tau Dhir.. Gue juga maunya lepas dari perasaan ini, tapi gue gak tau gimana caranya. Gue udah berusaha tapi gue gak mampu.”
      “Kayanya gue tau deh gimana caranya?” kata Niken tiba-tiba.
      Tapi,
      Krriinnnggg......, bel tanda masuk berbunyi.
      “Udah kita lanjutin nanti aja pas bel istirahat,”.kata Niken
      “Oke deh,” sahut Echa dan Dhira berbarengan.
      Mereka pun duduk dibangkunya masing-masing.
      “Jangan sedih, ya Re!” ucap Dhira.
      Aku hanya tersenyum tipis.


      B
      el istirahat pun berbunyi. Kami semua berkumpul di kantin untuk melanjutkan pembicaraan kami yang tadi sempat tertunda. “Gimana tadi caranya, Ken?” tanya Dhira dan Echa berbarengan seolah tidak sabaran.
      “Rere harus punya pacar, seenggaknya temen deket, deh. Supaya dia lupa sama Vano. Bener gak gue?”
      “Ide cemerlang tuh, Ken!” teriak Dhira.
      “Tapi yang jadi masalahnya, Rere kita kenalin sama siapa?” ucap Niken yang terlihat bingung.
      “Apa-apaan, sih kalian? Gue gak suka tau!” bentak Rere.
      “Ya ampun Re, kita gak ada maksud kaya gitu ke loe. Suer deh niat kita murni buat bantuin loe!” Echa terlihat panik.
      “Maaf deh kalo loe gak suka sama ide gue. Loe jangan marah ya sama gue dan semuanya,” kata Niken yang terlihat bersalah.
      Aku tertegun melihat mereka semua. Mereka begitu tulus mau membantuku, tapi aku malah marah ke mereka. Seharusnya aku gak kaya gitu ke mereka.
      “Aturan gue yang minta maaf sama kalian. Maafin gue ya! Gue gak ada maksud buat marah ke kalian. Tapi jujur gue gak suka. Gue akui niat kalian baik, tapi gue mohon ama kalian semua biarin aja gue yang cari siapa orang yang tepat buat gue. Gue gak mau nyusahin kalian semua,” kataku perlahan-lahan.
      “Oke kalo itu emang keputusan loe, kita hargai keputusan itu! Tapi bener deh kita semua gak ada yang merasa disusahin ko sama loe, Re. Kita cuma mau yang terbaik buat loe,” tutur Dhira panjang lebar.
      “Thanks, ya. Saat ini yang gue pengen tuh cuma bersama kalian semua. Gue seneng banget punya sahabat kaya kalian,” kataku.
      “Iya kita juga,” jawab Dhira.
      “Ya udah, yuk kita ke kelas, sebentar lagi kan bel,” ajak Niken.
      “Ayo!”
      Ya, aku seharusnya gak usah sedih, aku masih punya sahabat yang sayang sama aku, tanpa Vano aku juga masih bisa lanjutin hidupku, batinku sambil tersenyum memandangi ketiga sahabatku itu.


      T
      ing tong...
      Suara bel itu mengagetkan aku yang sedang menonton tv.
      “Huh, siapa sih? Malam-malam gini pake bertamu segala,” gerutuku dalam hati.
      “Mana sih, bibi?”
      Aku berteriak-teriak memanggil bi Inah, pembantuku itu. Bunda memang sedang tidak ada di rumah, tadi ia di telepon oleh Ayah agar segera menyusulnya ke luar kota, ada keperluan yang mendesak.
      Huh, suara bel itu semakin memekakan telinga. Akhirnya aku memutuskan untuk melihat siapa yang datang
      Kubuka pintu rumahku, ternyata yang datang itu si Dhira dengan seseorang yang tidak aku kenal.
      “Loe Dhir? Gue kirain siapa? Ngagetin gue aja loe. Ayo masuk!” ajakku.
      “Oh iya, kenalin dulu nih, sepupu gue, Kevin,” ucap Dhira.
      “Kevin Pratama Yudha”
      “Renita Alika Pratiwi”
      “Nama yang  cukup indah. Gue manggilnya apa, nih?”
      “Cukup Re aja,” jawabku singkat. “Ayo, silahkan duduk!”
      “Ya ampun, biasanya juga kalo gue dateng ga pernah disuruh duduk!” sela Dhira berusaha menggodaku.
      “Ah, ngiri amat, hehehe. Mau minum apa?”
      “Gue apa ajah, yang penting ‘berwarna’,” ucap Dhira.
      “Kalo loe?” tanyaku ke Kevin.
      “Gue apa aja terserah.”
      “Oke, deh! Dhir, loe warna putih kan?”
      Dhira terlihat kaget dengan ucapanku..
      “Tenang sih, gue boong kali. Hehehe”
      “Dasar loe!” teriak Dhira.
      Saat membawa nampan yang berisi minuman dan sedikit cemilan, aku tidak sengaja mendengar ucapan Dhira dan Kevin.
      “Gimana Vin, anaknya asyik ga? Baik, rame, lucu, ‘kan? Yang jelas Re lebih baik dari Tia!!” tanya Dhira.
      “ Kelihatannya sih begitu. Semoga saja ucapan loe benar,” jawab Kevin.
      Ada apa ini? batinku heran.
      Ternyata mereka diam-diam merencanakan sesuatu. Mereka akan menjodohkan aku dengan sepupuya Dhira. Pantas saja aku merasa akhir-akhir ini mereka bersikap aneh ke aku.
      Aku keluar dari dapur, meletakkan makanan dan minuman di meja, lalu menarik tangan Dhira.
      “Maksud loe apa, Dhir?” serangku dengan pertanyaan yang membuat Dhira kaget.
      “Loe kenapa sih?” kilahnya.
      “Udah jawab dulu pertanyaan gue!!”
      “Oke. Gue, Echa, dan Niken pengen nyomblangin loe sama sepupu gue, Kevin. Sebelumya gue minta maaf karena gak ijin sama loe dulu, soalnya kita semua tau loe bakal nolak rencana ini,” Dhira berusaha menjelaskan.
      “Jadi loe ke sini cuma pengen nyomblangin hal yang gak penting kaya gini? Lagipula gue kan dah pernah bilang sama loe dan semuanya, kalo gue mau gue aja yang cari seseorang yang tepat buat gue. Gue kira kalian semua ngerti? Ternyata enggak!” kataku dengan perasaan kecewa.
      “Maafin gue, Re,” pinta Dhira.
      “Ya udahlah,”
      Aku lalu kembali ke ruang tamu, untuk menemani mereka. Walaupun aku gak suka tapi aku masih menghargai kedatangan mereka. Sikap Dhira terlihat tidak nyaman, mungkin dia mengira aku marah dengan sikapnya. Padahal enggak! Aku cuma kesal saja. Tapi biarlah aku mau mengerjai mereka.
      Akhirnya setelah sekian lama berbincang dengan Kevin. Aku tertarik dengan laki-laki ini. Dia begitu baik, asyik, dan menyenangkan. Beberapa lama kemudian mereka pamit pulang”.
      “Gue pulang Re,” pamit Dhira lirih.
      “Yaudah hati-hati di jalan.”
      “Re, pamit ya. Salam buat orang rumah. Nanti kapan-kapan gue boleh maen kesini lagi kan?” tanya Kevin.
      “Boleh kok,” jawabku.
      Mereka pun pulang.


      S
      udah tiga hari aku menjauhi sahabat-sahabatku, rencananya sih pengen ngerjain mereka. Keesokan harinya di sekolah. Dhira, Echa, dan Niken meminta maaf kepadaku. Mereka berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
      Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi muka mereka.
      “Re, loe ko ketawa sih?” tanya Niken yang terlihat heran melihatku.
      “Loe gak marah sama kita Re?” tambah Echi.
      “Ya ampun, gue gak marah kali. Santai aja! Lagipula mana mungkin sih gue marah sama kalian.”
      “Dasar loe, Re! Tiga hari diemin kita, ternyata cuma pengen ngerjain doang!” gerutu Dhira.
      “Hehehe. Kali-kali sih isengin orang. Ga apa-apa, ‘kan? Oh iya, kalian semua tau gak? Dalam beberapa hari gue deket sama Kevin, gue udah ngerasa respect sama dia.”
      “Ah, yang bener loe?” tanya Dhira tak percaya.
      “Ya, gue juga gak tau kenapa bisa gini. Tapi itu emang yang gue rasain,” kataku sambil tertawa.
      “Ya ampun. Dah yakin gitu, loe! Kemarin marah-marah! Dasar! Tapi syukur deh seenggaknya loe udah bisa sedikit lupain Vano,” kata Echa terlihat senang lalu mencoba melemparkan bukunya ke arahku.
      “Iya, thanks, ya! Tanpa kalian gue gak mungkin kaya gini dan kalian semua juga harus tau, ya! Kemarin dan sekarang ‘kan adalah dua waktu yang berbeda. Hahaha,” jawabku sambil menghindari lemparan Echa.
      “Dasar nih anak! Kita juga seneng kalo loe juga seneng,” Niken mencubitku gemas.
      Lalu kita semua berpelukan dan berjanji kalo kita akan selalu bersama.


      T
      ernyata, Kevin juga menyimpan perasaan yang sama ke aku. Setelah kita sering jalan bareng dan lebih mengenal satu sama lain,  aku yakin kalo aku emang beneran suka sama dia.
      Akhirnya dalam waktu empat bulan kita pendekatan. Gue udah jadian sama Kevin. Gue yakin kalo dia gak bakal nyakitin gue, kaya Vano. Dan akibat dari jadian gue itu, gue harus traktir sahabat-sahabat gue selama 1 minggu makan di Restoran. Gimana gak tekor tuh gue?! Hehe..
      Ternyata emang bener, Vano emang bukan yang terbaik buat gue dan tanpa Vano gue masih bisa lanjutin hidup gue yang masih panjang ini bersama dengan orang-orang yang gue sayangi.
      Kita harus percaya,, bahwa kebahagian itu pasti akan datang, walau mungkin tidak dengan orang yang kita inginkan atau kita duga sebelumnya.
      “Gue sayang loe, Vin” ucapku lirih namun dengan penuh keyakinan.
      Kevin pun memelukku dan seakan tidak mau melepaskan pelukannya. Ya.. Aku yakin.. Aku akan bahagia bersamamu Kevin.




      Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer